b_300_200_16777215_00_images_news_bakar-jerami.jpg

Kebiasaan petani di Aceh membakar jerami usai panen dinilai sangat merugikan dari sisi ekonomi maupun dampak terhadap lingkungan. Pada umumnya petani masih memandang jerami sebagai ampas yang tidak bernilai.

Hal itu disampaikan oleh Dekan Fakultas Agrobisnis di Univesitas Abulyatama Ir Firdaus MSc, menangapi kebiasaan petani saat musim panen padi tiba seperti sekarang ini.

Menurutnya, jerami itu dapat diolah menjadi berbagai produk yang dapat menghasilkan uang bagi petani. “Jerami itu bisa diolah jadi kompos untuk menimalisir penggunaan pupuk kimia, sebagai media tanam Jamur maupun pakan ternak.”

Walaupun ada sisi positifnya menurut petani untuk meningkatkan kualitas unsur hara tanah setelah dipakai untuk menanam dan membasmi hama Keong, namun  dampak untuk lingkungan sangat buruk karena asap pembakarannya menyebar kemana-mana.

“Jika jerami diolah menjadi pupuk kompos, maka keuntungan yang didapat akan lebih besar dan dapat menimalisir pengeluaran untuk pupuk. Penyebaran pupuk juga akan tersebar secara merata,” ujar Tuha Peut Gampong Ateuk Munjeng ini, Sabtu (28/3/2015).

Berbagi pengalamannya saat menyambangi petani di Brazil, petani di sanan biasa memafaatkan jerami untuk pupuk pada produksi selanjutnya. “Jerami itu tidak dibakar, tapi disebarkan secara merata di lahan sawah agar membusuk dan dibajak sekaligus dengan mesin pada pengelolaan tanah selanjutnya,” ujar Master Bidang Ekonomi Pertanian IPB 1994 tersebut.

Sumber : http://atjehlink.com/membakar-jerami-usai-panen-rugikan-petani